Surat Terbuka Untuk Ibu Sukmawati Dari Jenggala

Syamsuddin Radjab

Direktur Jenggala Centre

*Sebuah Tanggapan Atas Pernyataan Sukmawati Soekarno Putri Tentang Partai Masyumi 

https://m.merdeka.com/peristiwa/cerita-sukmawati-soal-partai-masyumi-di-era-soekarno.html

Ibu Sukmawati sebaiknya membaca sejarah perdebatan dalam sidang BPUPKI-PPKI dan sejarah Masyumi biar lebih paham.

Apakah deklarasi sepihak Bung Karno yang mengangkat diri sebagai Presiden seumur hidup dapat ditoleransi oleh UUD 1945 dan Pancasila?, Ibu tak perlu jawab. Tapi pertanyaan saya tak mengurangi sedikitpun kekagumanku terhadap ayahanda ibu sebagai proklamator dan bapak bangsa.

Saya hanya berharap ibu seharusnya menjadi solusi atas permasalahan bangsa saat ini, jangan memperuncing masalah yang sudah menggunung.

Apakah ibu tahu, jika Masyumi tidak memberi toleransi atas pasal 29 UUD 1945, mungkinkah kita Ber-Indonesia seperti sekarang ini?. Sulit saya bayangkan. Nasib kita akan seperti India yang baru merdeka, lalu melahirkan negara Pakistan hanya karena soal ideologi.

Masyumi dan PNI sudah tamat, termasuk PNI-Marhaen yang ibu dirikan karena tidak mendapat dukungan rakyat. Muslim sebagai rakyat mayoritas berhak dan wajib menentukan arah negara ini agar tetap pada rel cita-cita para pendiri bangsa.

Kemajemukan adalah keniscayaan, dan itulah kekuatan bangsa ini yang diikat dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Kita bersatu padu karena kita beda, kita bermusyawarah karena banyak pikiran dan pendapat. Begitulah Pancasila mengajarkan kepada saya.

Jadi, jika ibu menuduh Masyumi sebagai partai intoleranasi, tidak saja ibu kurang paham sejarah bangsa tetapi juga ibu telah merawat cara berpikir intoleran dan pengingkaran kebhinekaan itu sendiri.

Saya mengimpikan ibu seperti para pendiri bangsa ini; Natsir. Prawoto, I.J. Kasimo. Herman Johannes. AM.Tambunan. J. Leimena, Ida Anak Agung Gde Agung, mereka berbeda secara keyakinan dan ideologi tetapi untuk Indonesia mereka tak dapat dipisahkan kecuali maut datang menjemput. Alangkah indah hikayat mereka jika ibu sempat membaca biografinya.

Ibu Sukmawati, jujur saya kadang meneteskan air mata jika membaca sejarah tokoh besar bangsa kita yang penuh toleransi dan saling menghormati di antara mereka.

Bahkan, di kisah kan, pada suatu waktu Natsir sebagai tokoh Masyumi mengajak Aidit yang tokoh PKI pergi berdua kongkow2 di Warung kopi seputar Menteng untuk mendiskusikan seputar kebijakan yang dikeluarkan oleh ayahanda ibu, Bung Karno. Setelah mereka berdiskusi, keduanya pulang saling berboncengan dan saling mendukung.

Ibu Sukmawati, Mereka adalah teladan bagi saya dan generasi muda lainnya. Berbeda tak harus bertengkar. Mencintai tak harus memiliki…(eh, Sdh gak nyambung ya). Oh, ya, saya mandi dulu ibu Sukma. Tks

Pasar Minggu, 18 Januari 2017.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.