Azis Qahar Mulai Solidkan Hidayatullah

Makassar, LiputanLIMA.com– Kembali bertarung di Pilgub Sulsel, membuat Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar (AQM) lebih berhati-hati. Semua potensi dukungan diinventarisasi. Barisan pendukung pun terus dirapatkan.

Salah satu basis utama AQM adalah Hidayatullah. Apalagi, keputusan maju kembali berpasangan dengan Nurdin Halid (NH) bukanlah keputusan AQM secara pribadi. Akan tetapi, keputusan dan penugasan Hidayatullah.

“Sebagai kader tulen, saya harus membuktikan bahwa penugasan organisasi tentu patut dihormati dan dijunjung tinggi. Keputusan organisasi harus diperjuangkan,” ungkap AQM saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Syabab Hidayatullah di Gedung Transmigrasi Kota Makassar, Jalan Deng Rammang, Sabtu (13/5/2017).

Menurut Aziz Qahhar, menjadi kader militan itu tidak sekadar bermain di ranah internal. Artinya, tidak bisa dengan hanya bermain di arena kecil. Akan tetapi, harus mampu bermain di arena besar, bahkan nasional.

“Seperti saya ini, sebagai kader Hidayatullah yang ditugaskan bertarung di Pilgub Sulsel, ya tentu saya harus tunjukkan bahwa saya kader sesungguhnya,” kata Aziz sembari menambahkan, tentu dirinya tidak mungkin berjuang sendiri.

Sebab, namanya keputusan organisasi, tentu semua perangkat organisasi siap mendukungnya. Siap bekerja dan siap berjuang.

Anggota DPD RI ini lalu menjelaskan, kader Hidayatullah juga harus bisa bermain di semua sektor. Terutama politik. Karena, ketika berbicara kemaslahatan social, kemaslahatan umat, berarti dasarnya adalah politik.

“Saya maju di Pilgub itu demi kemaslahatan social, kemaslahatan umat. Dan begitulah seharusnya petarung. Harus tegar tanpa harus meninggalkan arena perjuangan demi kepentingan orang banyak,” tegasnya.

Pada acara yang mengambil tema, “Melejitkan Kerja Organisasi dengan Kekuatan Mainstrem Gerakan untuk Indonesia Bermartabat” Aziz Qahhar juga mengulas kembali sejarah pergerakan mahasiswa atau pemuda di Indonesia. Menurut dia, dinamika pergerakan mahasiswa dulu sangat massif dan dinamis. Itu dimungkinkan karena persaingan yang sangat ketat dari setiap organisasi. Hal itu merupakan tantangan yang harus dihadapi dan dijawab setiap kader organisasi.

“Menyandang predikat sebagai seorang kader itu tak serta merta menjadi sebuah penamaan. Akan tetapi harus dipahami baik akan tugas dan fungsinya, agar mampu menjawab tantangan zaman ini dengan cerdas,” pesannya.

Dijelaskan, pergerakan mahasiswa harus dinamis, bukan pasif. Karena setiap organisasi butuh regenerasi dan kualitas kader. Setiap pengurus harus lihai dalam bergerak dan memikirkan cara melahirkan kader yang militant. Kader  yang siap menjadi pelanjut cita-cita organisasi dan cita-cita pergerakan.

“Kenapa mesti melahirkan kader? Karena organisasi juga membutuhkan kuantitas di samping kualitas.  Karena negara ini mengantut sistem demokrasi, dimana demokrasi pasti kita membutuhkan kuantitas,” ungkapnya.

Soal bagaimana menghasilkan kader yang berkualitas dan militan itu juga dibahas. Menurut AQM, jawabannya adalah tingkatkan kajian literasi, membaca, mengkaji atau diskusi, menulis lalu aksi. Bacaan juga harus sistematis. Mulai dari buku agama, sosial, politik, ekonomi dan budaya serta hukum juga.

“Gunanya agar kita tidak kaku dalam memahami dinamika sosial keumatan. Apalagi organisasi Syabab Hidayatullah yang targetnya adalah bagaimana bisa bermanfaat bagi orang banyak, khususnya masyarakat sekitar,” paparnya. (Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.