Membesar, Aksi Penolakan Tambang Pasir Laut di Takalar

TAKALAR, LiputanLIMA.com– Protes penambangan pasir laut guna kepentingan penimbunan areal Centre Point of Indonesia (CPI) terus berlanjut.
Bahkan, kali ini aksi tersebut tergolong besar dan spontan karena dilakukan di sepanjang garis pantai pada empat kecamatan di Takalar.
Aksi spontan dilakukan warga menyusul kembali beroperasinya kapal Boskalis asal Belanda yang melakukan aktifitas pengerukan pasir laut di perairan Galesong, Minggu (2/7/2017).
Aksi kali ini tergolong berbeda dengan rangkaian aksi sebelumnya. Ratusan warga melakukan aksi bakar ban di sepanjang bibir pantai Kecamatan Galesong Utara sampai Sanrobone yang berjarak puluhan kilometer. Tak pelak, bakar ban tersebut menimbulkan asap pekat ke udara.


Akhmad Kudri, salah satu peserta aksi menjelaskan bahwa penolakan warga hari ini takkan berhenti sampai pemerintah menghentikan penambangan ini.
“Ini adalah aksi penolakan tambang pasir laut yang telah menghancurkan laut sebagai satu-satunya sumber mata pencaharian nelayan di Galesong,” ungkap Akhmad Khudri, salah seorang penggagas aksi.

Menurut Akhmad, aksi ini dilakukan secara serentak di 200 titik di 20 desa yang ada di sepanjang pesisir Takalar, dimulai sejak pukul 7.45 pagi.

“Kita umumkan di masjid pagi-pagi untuk mengajak warga untuk turun aksi dan ternyata banyak yang datang mendukung aksi kami tersebut,” katanya.

Akhmad berharap dengan aksi ini akan menggugah pemerintah provinsi Sulsel untuk mencabut izin penambangan yang telah ada dan tidak lagi melakukan penambangan pasir di daerah tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.