Bertemu PPP, Nurdin Halid Jelaskan Filosofi Nakhoda dan Punggawa

MAKASSAR, LiputanLIMA.com- Cagub Sulsel Partai Golkar, Nurdin Halid, untuk kesekian kalinya mempertegas bahwa dirinya maju di Pilgub Sulsel 2018 bukan untuk berkuasa. Dirinya maju kerena tidak puas dengan kemajuan yang dialami Sulawesi Selatan saat ini.

NH menyampaikan hal tersebut saat menyampaikan penggalan singkat visi-misinya di depan elit pengurus DPW PPP Sulsel yang datang berkunjung ke rumah pribadi Nurdin Halid di Jl. Mappala, Makassar, Sabtu (15/7/2017).

“Memang, pertumbuhan ekonomi Sulsel mencapai di atas pertumbuhan rata-rata nasional, yakni 7,5 persen. Itu bagus. Tapi, pertumbuhannya hanya di kota. Tetapi di pelosok, di desa-desa, pertumbuhan itu tidak ada. Coba tanya orang-orang di kampung, seberapa banyak mereka punya kemampuan,” beber mantan Dirut Puskud Hasanuddin Sulsel.

Tentang karirnya, Nurdin menganggap sudah cukup dengan karir nasionalnya saat ini, baik di bidang politik maupun dalam bisnis. Tapi, katanya, itu tidak ada artinya kalau dirinya tidak mampu memperbaiki kampungnya.

“Kalau mau berkuasa, di Jakarta, di pusat. Kalau membangun, tentu di daerah. Jadi kalau ke daerah, sudah pasti bukan untuk berkuasa,” ujar Nurdin.

Sembari berkelakar, Nurdin Halid juga menanyakan perbedaan nakhoda dan punggawa. Sejak didapuk menjadi PLT Ketua Golkar Sulsel, Nurdin kerap disebut sebagai nakhoda ulung.

Nurdin Halid uraikan pemahamannya tentang Nakhoda dan tentang Punggawa pada kesempatan tersebut. Tanpa menunggu jawaban, Nurdin yang berpasangan dengan Aziz Qahhar di Pilgub Sulsel 2018 ini, langsung menjawab pertanyaannya sendiri.

Menurut Nurdin, Nakhoda itu bertanggung jawab selamatkan kapalnya dan semua muatannya, lebih-lebih lagi awaknya, bila kapalnya menghadapi masalah dalam pelayaran di laut lepas.

“Dalam keadaan darurat, nakhoda itu berani tenggelam bersama kapalnya. Berani korbankan dirinya, bukan mengorbankan awak kapal yang dipimpinnya,” tutur Nurdin menjelaskan.

Sebaliknya, kata Nurdin menambahkan, Punggawa itu tidak ikut melaut. Punggawa itu tinggal di darat. Sehingga kalau ada kecelakaan kapal, yang akan mati tenggelam itu Sawinya, bukan punggawanya.

“Jadi itu mengorbankan Sawinya,” ujar Nurdin dan membuat tamu dari PPP di rumahnya tergelak tawa.

“Karena itu saya mau jadi nakhoda,” kelakar Nurdin disambut tawa hadirin.

Sementara itu, Ketua DPW PPP Sulsel, Muhammad Aras, mengaku salut dengan prinsip Nurdin Halid. Menurutnya, Nurdin memiliki visi yang pas dengan keinginan PPP.

“Prestasi NH tidak diragukan lagi. Beliau tokoh nasional yang banyak membantu pembangunan di daerah dan semuanya sangat bermanfaat bagi kepentingan orang banyak,” katanya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.