Begini Rancangan Nurdin Halid untuk Tingkatkan Surplus Beras

MAROS, LiputanLIMA.com– Kebijakan impor beras memperoleh sorotan dari sejumlah pihak. Bakal calon Gubernur Sulsel, Nurdin Halid turut menanggapi kebijakan tersebut saat menghadiri silaturahmi bersama masyarakat tani, nelayan, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Desa Allepolea, Kecamatan Lau, Kabupaten Maros, Minggu (21/1).

Ketua Dewan Koperasi Indonesia ini menargetkan, Sulawesi Selatan ditargetkan tidak hanya surplus, tetapi akan menjamin ketersediaan stok beras dan pangan secara nasional. Sehingga, impor pangan ke Indonesia tidak lagi perlu ditempuh pemerintah.

“Tidak usah impor beras, Sulawesi Selatan akan menjamin ketersediaan beras dan pangan. Karena kita akan menyimpan stok di gudang-gudang di berbagai pelosok Sulsel,” bebernya.

NH telah merancang strategi teknis dalam menjamin ketersediaan beras Sulsel untuk pasokan nasional. Ia menggagas, kelompok tani, koperasi, dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) akan menjadi ujung tombak perekonomian yang bersentuhan langsung dengan penyediaan produksi pangan.

“Saat panen raya, pemerintah harus menetralisir harga agar beras tidak berada di bawah standar. BUMdes dan koperasi yang akan membeli, pedagang boleh beli tapi tidak boleh dengan harga di bawah standar,”katanya.

Selanjutnya, eks Dirut Puskud Hasanuddin ini juga menyiapkan holding di setiap kecamatan sebagai perkumpulan sejumlah koperasi dan BUMDes untuk tahap processing. Karena itu, lanjut NH, pabrik beras akan disediakan untuk memproses gabah petani. Sementara itu, di tingkat kabupaten akan menjadi pusat penimbangan dan pemasaran.

Melalui sistem tersebut, pasangan Aziz Qahhar ini juga menjamin ketersediaan pupuk bagi petani. Kelangkaan pupuk akan ditaktisi karena hanya ketiga lembaga tersebut yang berhak menjual pupuk subsidi. Sehingga, tengkulak tidak bisa lagi melakukan penimbunan pupuk yang menimbulkan kelangkaan.

Di samping itu, NH juga telah berkomitmen untuk membangun infrastruktur pertanian. Termasuk, peningkatan saluran irigasi memadai sehingga mampu meningkatkan produksi pertanian.

“Produksi rendah karena hanya mengandalkan tadah hujan. Padahal kita bisa memanfaatkan irigasi,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.