Aplikasi FaceApp Senjata Rusia Menguasai Data Pribadi Pengguna ?

LIPUTANLIMA.COM– Trend penggunaan aplikasi android FaceApp mendadak ‘meledak’ dua hari terakhir di Indonesia. Aplikasi yang diluncurkan 2017 silam, nampak menghiasi beranda pengguna Facebook.

Dibalik itu semua, ternyata di negeri Paman Sam justeru dianggap sebagai sebuah ancaman. Senator Amerika Serikat (AS) Chuck Schumer meminta FBI dan Komisi Perdagangan Federal (FTC) untuk melakukan penyelidikan keamanan dan privasi nasional pada FaceApp, sebuah aplikasi foto pengeditan wajah yang dikembangkan di Rusia. Hal itu ia sampaikan dalam surat yang dikirim pada Rabu (17/7/2019).

Aplikasi smartphone viral itu telah mendapat lonjakan popularitas baru karena terdapat filter yang menua pada foto wajah pengguna.
Schumer dalam suratnya kepada Direktur FBI Christopher Wray dan Ketua FTC Joe Simons menyatakan membutuhkan akses penuh dan tidak dapat dibatalkan ke foto dan data pribadi, yang dapat menimbulkan risiko keamanan nasional dan privasi bagi jutaan orang warga AS.

Komite Nasional Demokrat (DNC) juga mengirimkan peringatan kepada kandidat presiden 2020 partai itu pada Rabu. Mereka memperingatkannya agar tidak menggunakan aplikasi. Dalam surel tersebut, kepala keamanan DNC Bob Lord juga mendesak kampanye presiden Demokrat untuk segera menghapus aplikasi jika mereka atau staf mereka sudah menggunakannya.
Sementara itu, tidak ada bukti bahwa FaceApp menyediakan data pengguna kepada Pemerintah Rusia.

FaceApp, yang dikembangkan oleh Wireless Lab, sebuah perusahaan yang berbasis di St Petersburg, menyatakan di situs web bahwa mereka memiliki lebih dari 80 juta pengguna aktif. CEO FaceApp Yaroslav Goncharov, sebelumnya adalah seorang eksekutif di Yandex, yang dikenal luas sebagai Google Rusia.

FaceApp menyita perhatian pada 2018 saat menghapus ‘filter etnis’ setelah pengguna mengkritik mereka sebagai rasis. Baru-baru ini mereka juga menghadapi pengawasan dari publik atas beberapa masalah, seperti tidak jelasnya bahwa aplikasi mengunggah gambar ke cloud, daripada memproses secara lokal di perangkat pengguna.

Schumer mengatakan, tidak jelas bagaimana aplikasi kecerdasan buatan menyimpan data pengguna, atau bagaimana pengguna dapat memastikan penghapusan data setelah digunakan. Schumer mengatakan lokasi aplikasi pengeditan foto di Rusia menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana FaceApp memungkinkan pihak ketiga, termasuk pemerintah asing, memiliki akses ke data warga negara Amerika.

Dalam pernyataan, FaceApp telah menolak penjualan atau berbagi data pengguna dengan pihak ketiga.

“Sebanyak 99 persen pengguna tidak masuk. Oleh karena itu, kami tidak memiliki akses ke data apa pun yang dapat mengidentifikasi seseorang,” kata perusahaan itu dalam pernyataan yang dikutip oleh TechCrunch dikutip dari laman Republika.

Mereka menambahkan, sebagian besar gambar dihapus dari server dalam waktu 48 jam setelah tanggal pengunggahan. Sementara itu, tim penelitian dan pengembangan perusahaan yang berlokasi di Rusia, menyatakan data pengguna tidak ditransfer ke Rusia.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.