Benteng Penyair Bernostalgia Baca Puisi di Gedung Kesenian

Makassar, LiputanLIMA.com – Kurang lebih dua puluh tahun tidak terdengar, kini benteng penyair hadir kembali bernostalgia menyairkan sajak-sajaknya di gedung kesenian Societit de Harmonie, Sabtu (6/2/2016).

Benteng penyair merupakan sekumpulan seniman dan penyair yang ada di Makassar. Tiap Sabtu malam, mereka berkumpul di benteng Fort Roterdam dengan mementaskan hasil karya mereka.

“Seiring berjalannya waktu, kesibukan masing-masing membuat intensitas pertemuan kian berkurang dan hingga kini baru berkumpul lagi dengan harapan Benteng Penyair akan kembali lagi di tiap Sabtu malam sebagai wadah silaturahmi bagi seniman Benteng Penyair dan pembelajaran bagi seniman-seniman muda lainnya,” tutur Bahar Merdhu selaku ketua panitia.

Salah satu penyair yang hadir ialah Chaeruddin Hakim, dengan ciri khas berbeda membawakan puisi berbahasa Bugis Makassar diiringi alat musik tradisional seperti gendang dan kecapi.
Menurut Chaeruddin Hakim banyak seniman yang lebih memilih menggunakan bahasa melayu ketimbang bahasa ibu sendiri, yakni bahasa daerah.

“Sastra itu universal dan bahasa adalah ideologi yang harus di perjuangkan, bahasa Bugis Makassar mempunyai nilai estetika dan perlu perjuangan untuk menjadikannya sebuah syair dan kelong (lagu),” ungkap Chaeruddin saat ditemui usai tampil.(rifkah/man)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.