Cerpen: Perempuan Pertamaku

Ilustrasi (ist)

Oleh: Hamdan

SUATU ketika jelang siang, aku telah pulang dari sekolah. Kelas empat sekolah dasar lebih awal pulang dari kelas lima dan enam. Dari jauh aku melihat rumah sepi. Sepertinya tak seorang pun orang ada di rumah. Aku mulai merasa kurang enak, kurang enjoi, meski tadi sangat enjoi karena ulanganku dapat sepuluh. Sejak empat tahun bersekolah, aku dapat merasakan betapa kacaunya batin saat pulang ke rumah dan aku mendapatkan rumah tanpa ibu. Meskipun aku dapat menebak mungkin ibu pergi ke pasar, atau pergi ke sungai mencuci. Sejak menyadari perasaan itu, sejak itu pula aku menyadari betapa ibu sangat berarti dalam hidup. Pada ibulah aku mengenal dan merasakan rindu. Sejak itu aku memahami rindu seperti angin yang tak pernah di duga dari mana datangnya dan ke mana perginya.

Setelah ujian kenaikan kelas, aku berlibur ke rumah nenek. Baru kali ini aku dapat berlibur sepekan ke rumah nenek. Biasanya aku hanya datang berkunjung beberapa jam saat aku berkesempatan ikut ibu ke pasar, lalu ibu mampir menjenguk nenek dan kakek. Rumah mereka di tepi kota sebenarnya, tetapi menjadi sangat desa karena berada di ketinggian gunung yang membentangi sisi kota. Dari kota, orang-orang dewasa dengan tenaga normal, dapat berjalan kaki hampir sejam menyusuri jalan setapak yang terjal berbatu. Jika musim hujan, jalan batuan itu pasti licin.

Salah langkah sedikit, siapa saja bisa tergelincir dan terguling entah berhenti di mana. Bisa jadi jatuh di atas atap rumah warga atau tersangkut di akar-akar jati reboisasi. Sesekali kami berpapasan dengan beberapa warga yang memikul air bersih dua jerigen ukuran 20 liter. Mereka membuat sumur-sumur umum di lembah. Sumurnya agak rumit karena mereka melubang batu gunung dan mengalirkan sejumlah mata air menuju ke lubang itu.

Rumah nenek boleh dibilang berada di tempat yang paling tinggi. Dari halaman rumah, jauh di sana, aku dapat melihat bentangan teluk dan mendengarkan sayup mesin-mesin kapal serta perahu saling bersahutan. Rumah nenek jelang sore itu sangat sepi, tapi pintu terbuka. Nenek pasti ada di dalam. Benar. Ia di dapur sedang memasak nasi, mengerjakan ikan dan masih terlihat tumpukan sayuran yang menunggu untuk dikerja. Tampaknya baru sekitar sejam yang lalu ia datang dari pasar kota. Ibu langsung membantunya. Aku langsung meneguk air dua gelas dan beristirahat. Aku bahkan sempat tertidur pulas. Mungkin karena kelelahan menaklukkan perjalanan.

Saat terbangun, hari telah gelap. Ibu telah pulang sejak tadi karena ia hanya mengantarku ke nenek. Betapa tidak nyaman tak melihat ibu pulang ke rumah. Tapi nenek belum beranjak dari dapur. Sarung dan kebaya pembungkus tubuhnya yang mulai bungkuk itu, masih yang ia pakai sejak aku tiba tadi. Kakek yang lebih bungkuk lagi dan penuh uban, baru datang dari kerja setelah aku usai shalat maghrib. Shalat yang telat. Ia memeluk dan menciumku. Lalu ke kamarnya, dan ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Aku menonton televisi black white bersama kakek hingga masuk waktu isya. Kami shalat. Setelah shalat, nenek memanggil kami untuk makan. Ia masih di dapur. Aku melihatnya masih memasak air untuk memenuhi stock air minum. Tapi ia juga ikut makan bersama kakek dan aku.

Usai makan, aku dan kakek kembali ke depan tivi. Nenek membersihkan meja dan kembali ke dapur. Hingga kami mengantuk, nenek baru selesai membereskan segala urusan dapur. Makanan sudah ia amankan dari gangguan tikus dan kecoak. Piring dan seluruh perlengkapan dapur telah ia cuci pula. Dapur telah bersih. Saat kami tidur, nenek baru membersihkan badanya dengan kain basah. Ia tidur belakangan.

Aku bangun shalat subuh. Sangat pelan aku bergerak perlahan ke kamar mandi untuk wudhu. Aku takut membuat suara yang bisa menyebabkan tidur nenek terganggu di dalam kelambu usangnya. Ia sangat lelah, pikirku. Betapa terkejutnya aku karena api ditungku dapur telah menyala. Ternyata nenek yang telat tidur, sudah bangun lebih awal dan mulai mengurus seluruh apa yang kami butuhkan untuk sarapan pagi. Sambil mengukus nasi, ia mulai memarut kelapa untuk santan. Wajah tuanya tergambar jelas dalam pancaran kuning pijar sepuluh watt. Aku bergegas shalat agar bisa membantunya. Setidaknya aku bisa menyiapkan kayu bakar dari pelepah kelapa kering yang jatuh berhamburan di kemiringan sisi gunung berbatu belakang rumah.

Hingga saatnya kami harus sarapan, semuanya telah tersaji di atas meja; nasi kuning, mie goreng, teri kering dan sambel tomat. Tiga gelas susu panas juga telah siap di minum. Setelah sarapan, kakek berangkat kerja. Nenek lanjut membersihkan seluruh dapur dan segenap perangkatnya. Aku membantu menyapu seluruh ruangan dan pekarangan rumah. Nenek lanjut mencuci pakaian kotor dan mandi. Setelah mandi dan berpakaian, aku baru mengerti, ternyata ia sedang bersiap-siap lagi untuk ke pasar kota. Seperti kemarin, membeli segala kebutuhan sehari semalam. Orang ini kapan capeknya? Non stop. Bisikku bingung dalam hati.

Terbayang aku betapa terjal dan berbahayanya jalan ke kota. Bagaimana ia dapat menaklukkan jalan pergi dan pulang dalam kondisinya yang setua itu. Pergi ke kota artinya ia harus menahan tubuhnya pada penurunan jalan setapak dan terjal selama sejam lebih perjalanan. Sebaliknya jika pulang, ia harus mengangkat tubuhnya menaklukkan pendakian sejam lebih perjalanan di jalan yang sama aku lewati kemarin bersama ibu. Dari pagi hingga pagi kembali; nenek menaklukkan ganasnya jalan dan menaklukkan dapur yang harus terus diolah.

Sehari, dua hari, tiga hari, hingga hari terakhir libur, nenekku melakukan pekerjaannya berulang-ulang. Pasar, dapur, kamar cuci, sesekali ke luar memetik daun kelor dan pepaya. Tak pernah aku mendengar sedikit saja keluhannya, meski aku merasakan betul bahwa ia sedang teramat lelah.

Terbayang aku baginilah yang ia lakukan setiap hari sejak mereka menikah 45 tahun lalu. Sebelum tidur, kadang ia mengurut sendiri beberapa bagian kaki serta lengan dengan minyak yang ia ramu sendiri. Dapur adalah rutinitas. Apakah nenekku dulu tidak mengenal cita-cita? Apakah ia tidak punya angan-angan untuk sekali saja jalan-jalan ke kota lain dan meninggalkan rutinitas dapurnya?

Di sinilah pertama kali aku mengenal dan merasakan kekaguman. Dan pertama kali mengagumi seseorang. Di sini pula pertama kali aku mengagumi perempuan. Perempuanku. Dialah nenekku. Ia benar-benar mentuluskan hidupnya untuk mengurus rumah tangga hingga seluruh anaknya telah berkeluarga dan hidup terpisah darinya. Ia mampu menerima dengan tulus dan bangga penghasilan suaminya yang sejak dulu sebagai pekerja kasar dari gudang-gudang industri. Sejak masih muda, ia tak pernah berpikir ikut bekerja untuk menambah penghasilan. Cukuplah suaminya yang kerja, dan cukuplah ia merawat rumah tangga.

Saat itu aku berpikir bahwa jika seorang ingin mencari ketulusan sejati, carilah di dapur. Aku bahkan berpikir mungkin yang disebut ketulusan bisa jadi berjenis kelamin perempuan. Tapi yang tak pernah aku lupa ia pernah berkata; bahwa surga berada di telapak kaki ibu adalah suatu kemuliaan yang jauh melampaui logika kesetaraan. Seorang perempuan tak perlu menjadi presiden untuk mencapai surga, karena dapur adalah pintu surga terdekatnya.

Samata, 29 Oktober 2014

IMG_9527-

*Penulis adalah pendiri UKM Seni Budaya eSA UIN Alauddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.