Putra Almarhum Dono Warkop DKI Malu Tak Suka Diekspose di Sekolah

Almarhum Dono dan Keluarga

Almarhum Dono dan Keluarga

Makassar, LiputanLIMA.com – Indonesia di era 80 an dan 90 an sangat mempopulerkan Warkop DKI. Trio yang beranggotakan Dono, Kasino dan Indro itu adalah legenda komedian tanah air yang film-filmnya hingga saat ini pun masih sering diputar ulang di berbagai stasiun televisi.

Sayangnya, tahun 1997 silam Kasino meninggal dunia, lalu disusul Dono yang menghembuskan nafas terakhirnya 4 tahun berikutnya. Setelah 10 dekade berlalu, keluarga Dono yang jarang di-ekspose media tiba-tiba mencuat dan ramai jadi bahan perbincangan publik.

Sekedar diketahui Dono memiliki tiga orang anak laki-laki, Damar Canggih Wicaksono, Andika Aria Sena dan Satrio Sarwo Trengginas. Mereka sudah harus menjalani hidup sebagai seorang yatim piatu di usia muda lantaran sang ibunda meninggal dua tahun sebelum almarhum Dono. Hidup tanpa kasih sayang orangtua dan tanpa banyak peninggalan harta warisan tak lantas membuat hidup Damar, Aria dan Satrio berantakan. Yang ada, mereka malah sukses menempuh pendidikan dengan usaha sendiri.

Prestasi membanggakan diraih putra komedian Dono Warkop, Damar Canggih Wicaksono yang mampu untuk lulus dengan prestasi tinggi dalam setiap jenjang pendidikannya. Saat ini Damar tengah menjalani masa pendidikan S3 di École Polytechnique Federale De Lausanne (EPFL) yang berada di Swiss.

Menempuh pendidikan Doktoral, usia Damar sebenarnya masih cukup muda dan saat ini juga belum berkeluarga. Ketika almarhum Dono meninggal dunia, Damar masih menempuh pendidikan SMA dan kini usianya sekitar 29 tahun.

“Tahun 2010 berangkat ke Swiss. Kuliah S1 di UGM Cum Laude dan kuliah S2 di sana (Swiss) juga suma Cum Laude. Sekarang S3 mau selesaikan cepat,” ucap Andika Aria Sena, anak pertama Dono di rumahnya kawasan Lenteng Agung, Jakarta.

Dengan kemampuannya saat ini, Damar tenyata ingin meneruskan jejak ayahnya sebagai seorang dosen. Dunia pendidikan dan penelitian yang cukup mulia rupanya lebih menarik perhatiannya daripada entertainment.

“Ditanya soal usai lulus mau kerja apa? Dia jawab cuma mau jadi dosen dan melakukan penelitian. Buku kuliahnya dia semuanya akar kuadrat, bikin saya pusing. Kalau pulang, ngajar keluarga. Damar itu orangnya nekat,” ungkap sang kakak.

Keinginan Damar ternyata sejalan dengan akar keluarga Dono selama ini yang berada di lingkungan Dosen. Meski dikenal sebagai komedian, Dono sebenarnya juga bekerja sebagai Dosen Sosiologi di Universitas Indonesia (UI).

“Yang beda itu adik saya si Damar. Bapak itu lulusan UI, saya UI dan adik saya yang paling kecil itu UI. Tapi Damar enggan masuk UI, dia milih UGM jurusan Teknik Nuklir. Selama kuliah di UGM, Damar tinggal dengan adiknya bapak yang kuliah di UGM. Keluarga bapak itu keluarga Dosen,” tandas Aria.

“Selama menuntut S3, dan presentasi ke beberapa negara dia (Damar) jadi the best student. Kalau saya nggak salah 2 kali di USA dan 1 kali di Jepang,” ungkap Indro.

Sementara dari data yang dirilis Univeritas tempat Damar menuntut ilmu, setidaknya ada 6 kali sosok eksentrik tersebut menyumbangkan karya dan menjadi pembicara dalam konferensi internasional Nuklir baik di Jepang dan Amerika Serikat. Hal itu dijalaninya sejak tahun 2012 silam, dan berikut beberapa di antaranya:

16th International Topical Meeting on Nuclear Reactor Thermalhydraulics (NURETH-16), Chicago, Illinois, USA, 2015.

The 10th International Topical Meeting on Nuclear Thermal-Hydraulics, Operation and Safety (NUTHOS-10), Okinawa, Japan, 2014

PHYSOR 2014 International Conference, The Westin Miyako, Kyoto, Japan, 2014.

International Conference on Mathematics and Computational Methods Applied to Nuclear Science and Engineering (M&C 2013), Sun Valley, Idaho, USA, 2013

2012 International Congress on Advances in National Power Plants (ICAPP ’12), Chicago, Illinois, USA, 2012.

 Di balik segala tingkah kocak yang ditampilkannya di televisi, almarhum Dono adalah sosok yang begitu peduli dengan pendidikan. Sejak kecil ia telah menanamkan pentingnya meraih pendidikan kepada anak-anaknya.

Namun demikian tiga putranya saat masih kecil ada kalanya merasa malu ketika diketahui sebagai putra Dono. Sebagai anak-anak mereka sering tidak ingin diantar sampai sekolah karena orang-orang pasti mengenal ayah mereka. (dilansir dari berbagai sumber)

(Irfan Wahab)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.