Rahasia Sukses Mendidik Buah Hati Menjadi Hafidz Quran

Dok

Keluarga Kamaluddin saat dikunjungi personel madinah untuk peliputan acara ngopi (ngobrol perkara iman) Trans 7 | Ist

“Sekolah terbaik itu ada dirumah. Ketika ibu atau istri memposisikan diri sebagai pendidik terbaik dan suami memposisikan diri sebagi kepala sekolah terbaik untuk anak-anaknya. Dalam sebuah rumah tangga, Ibulah yang harus menanamkan nilai-nilai kecintaan dan kasih sayang. Tetapi itu semua tidak cukup, sosok ayah juga mempunyai peranan penting dalam menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan ketegasan. Sehingga anak tumbuh dengan fitrahnya,” jelas pria yang kini berdomisili di Jln. Dulomayo, Bukit Baruga, Makassar.

Pria kelahiran 5 agustus 1976 ini menambahkan, bahwa dewasa ini kesalahan kebanyakan orang tua, adalah suami atau ayah hanya sibuk diluar.

Merasa sukses kalau sudah menafkahi istri dan anak-anaknya. Akan tetapi tidak seperti itu. Yang paling berperan dalam pendidikan anak adalah ayah. Sosok ayahlah yang harus menanamkan nilai-nilai Tauhid, Akhlak, Ibadah, dan Kesederhanaan.

Karena ayah adalah sosok yang menjadi teladan. Tapi, tidak bisa dipungkiri peran ibu didalamnya.

Pria yang pernah menimbah Ilmu di Pondok Pesantren Darul Huffadz (DH), 77 Kajuara ini, ketika ditanya tentang penerapan kurikulum pendidikan di keluarganya menjelaskan, bahwa yang Ia lakukan adalah komitmen dulu.

Komitmen pada tujuan dan apa sebenarnya visi misi keluarga. Visi keluarga seharusnya adalah, seperti yang tertulis dalam Al-Quran yang artinya. Hai orang-orang yang beriman, Jagalah diri dan keluargamu dari api neraka.

“Bagi saya, sayalah yang butuh anak saya, bukan anak saya yang membutuhkan saya. Sebab, saya butuh doanya. Asset orang tua adalah doa anak-anaknya. Kalau saya meninggal, pasti saya butuh doa anak saya. Dan karena saya butuh, saya memperlakukan mereka melebihi dari harta, melebihi dari segalanya. Nah, cara memperlakukan anak dengan baik adalah, dengan memperkenalkan keesaan Allah sejak dini. Memperkenalkan tentang ibadah-ibadah harian. Memperlihatkan kepada mereka contoh yang baik. Sebab anak itu tumbuh dari apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, dan apa yang menjadi tauladan mereka. Olehnya itu, saya sangat komitmen bersama istri untuk mendidik anak kami dengan sebaik-baiknya”, beber Pria yang menyelesaikan S1 di Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (Staim), Sinjai ini.

Tidak cukup sampai disitu, Ustad Kamal dan Ustazah Laili juga sangat disiplin dan tegas dalam mendidik ke-enam anaknya. “Saya kadang bilang kepada anak saya seperti ini. Nak kalau saya harus memukul kalian supaya lebih baik, maka akan saya pukul. Kalau saya harus berteriak agar kalian jadi lebih baik, maka saya akan berteriak,” tegasnya.

Ia pun dan sang istri mempunyai waktu khusus bersama anak-anakanya. Mereka menyebutnya waktu-waktu terbaik. Ada beberapa hal yang mereka sering lakukan dan kelak dapat menjadi contoh bagi orang lain. Yaitu, jangan berikan waktu sisa untuk anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.