Rahasia Sukses Mendidik Buah Hati Menjadi Hafidz Quran

Dok

Keluarga Kamaluddin saat dikunjungi personel madinah untuk peliputan acara ngopi (ngobrol perkara iman) Trans 7 | Ist

Tapi berikan waktu terbaik. Waktu terbaik bukan berarti 24 jam bersama dengan anak. Sebab, ada orang tua 24 jam bersama anaknya tetapi bukan waktu terbaik, karena tidak ada kebaikan yang Ia perdengarkan kepada anak-anaknya.

“Waktu terbaik saya bersama anak yaitu, setelah sholat subuh. Saya berusaha semaksimal mungkin, membangunkan anak sebelum masuk waktu subuh. Ketika sudah terbangun, saya yang memandikan, kemudain ibunya yang menyuapi. Setelah itu sholat berjamaah dan murojaah hafalan. Setiap hari, 30 menit dipagi hari dan 30 menit antara magrib dan isya, saya gunakan bersama anak-anak. Dari 24 jam yang Allah berikan kepada kami, 1 jam itulah waktu terbaik. Kerena dari 1 jam kebersamaan kami, saya melihat ada kebaikan-kebaikan yang membuat saya bahagia, atas hasil-hasil yang telah saya dan istri lakukan”, pungkas pimpinan Alquran Quranic Learning Centre (AQLC) cabang Sulsel ini.

Begitupula dalam penggunaan gadget. Ustad Kamal terlebih dahulu memahamkan tentang manfaat dan bahaya gadget. Setelah itu komitmen dengan waktu.

“Saya memberikan batasan waktu, kapan saja mereka boleh bermain gadget. Yaitu di hari sabtu dan minggu saja. Itupun di waktu-waktu tertentu. Dan paling lama 1 jam”, jelasnya.

Sekarang, siapa yang tidak mengenal Kaisa Aulia Kamal (7 tahun), anak keempat dari pasangan inspiratif ini. Gadis cilik kelahian tonra ini, berhasil meraih juara 3 di kompetisi Hafidz Quran, Trans 7, tahun 2014 silam.

Gerakan tangannya yang diciptakan sendiri oleh Ibunya, yang diberi nama Metode Kaisa, berhasil mencuri perhatian masyarakat. Sehingga Kaisa juga meraih juara favorite pilihan pemirsa dan dewan juri.
Tidak hanya Kaisa, tapi Zainul Fikri Al-Kamali (6 tahun) juga pernah menyabet juara 1 Hafidz Quran Trans 7 yang digelar di Makassar, dan menjadi perwakilan kota Daeng tersebut ke ajang Nasional, pada tahun 2015 kemarin.

Selain itu, Zain panggilan akrab hafidz cilik ini juga pernah meraih juara 1 lomba cerita tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) se-kota Makassar. Keempat saudaranya pun, Kholil Al-Kamali (11 tahun), ZakiyyulFuadi Al-Kamali (10 tahun), Muh. Habib Al-Kamali (9 tahun), dan Ziyadul Ghoits Al-Kamali (1,5 tahun) juga merupakan Hafidz Quran dan kerap kali keluar kota, memenuhi undangan seminar dan pelatihan untuk memotivasi lebih banyak anak lainnya agar menjadi Hafidz Quran.

Segala sesautu akan menjadi susah, jika bukan kita yang memulai ucap, Ustad Kamal ketika ditemui disela-sela aktivitasnya sebagi pelayan Allah. Ia sering menyebut dirinya seperti itu.
Ia melanjutkan kembali, bahwa anak-anak akan susah melakukan sholat tepat waktu kalau kita sebagai orang tua tidak tepat waktu.

“Sejak dini saya persiapkan mereka menjadi orang hebat. Dengan cara memperkenalkan mereka dengan Tuhannya. Sebab, orang hebat menurut hemat saya adalah mereka yang mengenal tuhannya sejak dini. Dan anak yang mengenal Tuhannya sejak dini adalah mereka yang akan mampu menghadapi tantangan masa depan. Begitulah cara saya mencintai anak-anak saya”, tutupnya.

IMG-20160627-WA0015

Penulis:

Nama: Andi Sitti Hajar
TTL: Cakkela, 28 Agustus 1993
Mahasiswa di Universitas Tadulako (Untad) Palu, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Journalis di Media Tadulako, Kord. Humas di KAMMI Daerah Palu, Kord. Humas di DPA Odoj Palu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.