12.659 Desa Butuh Akses listrik PLN

Menteri ESDM, Sudirman Said

Menteri ESDM, Sudirman Said

Jakarta, LiputanLIMA.com – Selain air menjadi kebutuhan dasar manusia, listrik termasuk yang menjadi perioritas kebutuhan yang sangat mendasar bagi manusia dan tugas pemerintahlah untuk memenuhi kebutua tersebut. Pemerintah, dalam rangka mewujudkan “terang untuk semua”, meluncurkan Program Indonesia Terang atau PIT. Program ini bertujuan menyediakan akses listrik bagi seluruh rakyat Indonesia, khususnya bagi 12.659 desa yang belum memperoleh akses listrik PLN. Program ini akan dilaksanakan mulai tahun ini dengan target 10.700 desa, atau sekitar 97% rasio elektrifikasi pada akhir 2019.

Rasio elektrifikasi yang di awal masa Pemerintahan Kabinet Kerja mencapai 85%, ditargetkan mencapai 97% pada 2019. Masih ada 12.659 desa yang hingga detik ini belum kunjung berakses listrik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN. Bahkan, 2.519 di antaranya belum terlistriki sama sekali alias gelap pada malam hari. Desa-desa ini sebagain besar tersebar di Papua dan di seantero Indonesia Timur lainnya.

Gubernur Maluku, Said Assegaff menyambut baik inisiatif pemerintah untuk menerangi wilayah-wilayah yang belum tersentuh oleh jaringan listrik PLN, baik desa yang sama sekali belum memiliki listrik atau desa yang memiliki listrik dengan sumber tenaga dari bahan bakar fosil. “ Saya menyambut baik program Indonesia terang. Saya kira dengan program ini, lima tahun mendatang sebagian besar wilayah Maluku itu terang,” ujar Said Assegaff.

Sudirman Said, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menuliskan pada kolom Sudirmain Said di detikcom, Minggu (28/2/2016). Terkait dengan tanggung jawab tersebut Pemerintah meluncurkan Program Indonesia Terang yang menargetkan enam provinsi di wilayah timur Indonesia yang rasio elektrifikasinya rendah. Program Indonesia Terang diharapakan dapat membuat wilayah-wilayah di Indonesia bagian timur dapat menikmati listrik 24 jam seperti di wilayah-wilayah Indonesia bagian barat.

Target implementasi Program Indonesia Terang hingga tahun 2019 adalah tersedianya jaringan listrik di 10.300 desa di Indonesia yang telah ditetapkan sebagai desa sasaran program. Dari total target tersebut, sebanyak 6.926 desa atau sekitar 67% berada di enam provinsi di wilayah timur Indonesia yakni, Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, NTT dan NTB. Total kapasitas yang perlu terpasang sebesar 350 MW, dengan asumsi konsumsi rata-rata listrik per hari 1,5 kWh/KK.

Dalam rangka mengimplementasikan PIT, strategi pertama yang dilakukan adalah memaksimalkan pemanfaatan energi setempat alih-alih harus “mengimpor” energi dari luar desa. Energi setempat ini kuat hubungannya dengan energi terbarukan, apakah itu energi surya, air, angin, bio, hingga arus laut. Dengan memanfaatkan energi setempat, pembangunan pembangkit dan transmisi listrik dapat dibangun secara lokal (off-grid), berbasis desa atau pulau, serta tak harus menunggu datangnya jaringan listrik dari pusat.

Energi terbarukan tersedia dalam jumlah yang berlimpah di Indonesia, diperkirakan lebih dari 300.000 megawatt, namun pemanfaatannya masih sangat minim, kurang dari 3%. Kendala utama pemanfaatan energi terbarukan adalah akses kepada teknologi energi ini yang masih terbilang mahal. Kendatipun sumber energinya dapat diperoleh tanpa bayar, tak ayal jatuh-jatuhnya harga satuan listrikpun mahal juga. Oleh karenanya, Pemerintah perlu menyiapkan teknologi energi terbarukan yang terjangkau harganya dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di pelbagai pelosok.

Pemerintah mustahil melakukan PIT sendiri. Dibutuhkan keterlibatan sejumlah pemangku kepentingan. Pemuda Indonesia yang dididik melalui berbagai lembaga pendidikan di dalam maupun luar negeri akan menjadi ujung tombak program ini. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengembangkan program Penggerak Energi Tanah Air (PETA) dan mengajak para pemuda untuk bergabung dan menjadi pionir PIT.

Keterlibatan swasta dalam program ini juga penting, terutama sebagai mitra pemerintah dalam mengembangkan listrik pedesaan.  Kebijakan pengembangan listrik lokal (off-grid) menawarkan kesempatan luas bagi swasta untuk berpartisipasi dalam PIT bekerja sama dengan pemerintah pusat maupun daerah, dengan badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, hingga bahkan badan usaha milik desa.

PIT akan dimulai dari enam provinsi paling timur Indonesia. Keenamnya adalah Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 67% dari desa tanpa listrik PLN berada di enam provinsi itu. Berbagai ketertinggalan dan kesulitan akses di sana membuat keenamnya menjadi provinsi yang harus digarap pertama kali. Dari Timur, program ini akan digerakkan secara cepat ke bagian barat Indonesia.

(Irfan Wahab)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.