Pengemis dari Malino yang Bermurah Hati

fakir 1

Dg Bulang, seorang perempuan yang berasal dari Malino, ditemukan tertidur di atas batu.

Makassar, LiputanLIMA.com – Namanya Dg Bulang, membawa keranjang dan tas. Dia sudah lupa berapa umurnya sekarang ini. Amal Hikmah Budiman, dikutip dari akun facebooknya mengatakan bahwa ia menemukan orang tersebut di hutan kota Maros, Minggu (28/02/2016).

Ia menemukan orang tersebut tertidur di atas batu. Namun, sekitar 15 menit ia kemudian terbangun. Lalu, menanyakan apakah Amal memiliki uang dua ribu atau tidak.

Nia’ doe rua sabbu ta’ nak? (ada uang dua ribunya nak?),” tanyanya.

Amal hanya mengaku bahwa bahasa pengemis tersebut adalah bahasa ibunya. Ibu tersebut, ternyata berasal dari Kabupaten Gowa, tepatnya Malino beratus-ratus jauhnya dari Maros. Meninggalkan kampung halamannya demi melanjutkan hidup di kampung orang.

Sejak Sabtu dirinya tiba di Maros dan berteduh di Pos Dinas perhubungan (Dishub), Maros, depan Masjid Al Markaz.

Amal dalam tulisannya mengaku bahwa sebetulnya ia heran, mengapa ia begitu jauh meninggalkan kampung halamannya. Namun, berdasarkan pengakuan ibu tersebut, ia sebetulnya telah memiliki tiga orang anak, da seluruhnya berada di luar daerah.

Di kampungnya, tak ada yang mampu memerhatikannya, katanya. Kemungkinan-kemungkinan dalam otakku mulai tumbuh, mungkin ibu ini menganggap Maros sebagai lahan subur untuk mengemis, orang-orangnya dermawan, dan sangat empati. Sehingga rela menyeberang kabupaten demi melanjutkan hidup. Tapi, itu hanya subjektivitasku saja, mungkin sang ibu punya alasan lain, tapi ia menutupnya rapat-rapat.

Meski masih heran, Amal mengaku hanya berselang sepuluh menit kemudian, ibu tersebut mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Ia memberikan sepotong wafer yang sudah berkurang, kemungkinan sisa semalam.

“Tabe’ nak, rikanrei, anu sikedde-sikedde (Silakan makan nak, meskipun ini sedikit),” katanya.

Sungguh, saya berada dalam haru yang dahsyat. Dalam keadaan sempit, jiwa sosial dan kedermawanannya ia masih mampu memberi.

Alasan dua ribu tersebut, rupanya hendak ia pakai untuk modal pulang ke Malino.

Saya mencoba menggeledah saku saya, walau tak banyak kertas yang saya dapatkan.

Ia lalu meminta Dg Bulang untuk pulang ke kampung halamannya. Ia pun berjanji. Dg Bulang hanya mendoakan dirinya, lalu berterima kasih.

 

(*/Suryani Musi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.